Menyalin, menyadur, atau plagiasi?
Ketiganya adalah bentuk meniru, tapi memiliki makna yang berbeda, dari sekadar comot sana comot sini sampai sekedar mengganti nama pengarang. Tergantung jalan mana yang akan ditempuh, apakah itu jalan pintas yang mudah atau jalan kesusahan. Entah itu kaum intelektual maupun non intelektual bisa terlibat jerat manis proses mengopi dan menikmati dampak positif atau negatifnya.
Entah sudah berapa banyak pihak yang kebakaran jenggot ketika menemukan karyanya sudah berpindah kepemilikan. Seorang teman sangat terkejut mendapati tulisannya di media cetak ditulis ulang di dunia maya oleh seorang yang tergolong kaum intelektual yang dengan percaya diri mencantumkan namanya sebagai pengarang artikel tersebut. Lucunya lagi, ada pembicara yang dengan percaya diri menyampaikan materi yang mencantumkan namanya sebagai penulis, sementara si penulis asli hadir mengikuti kegiatan tersebut.
Tentu bukan sebuah pengalaman yang manis ketika kita menyadari karya kita digunakan orang lain dan diakui sebagai karya mereka.
Mari belajar untuk bijak dalam mengadopsi karya orang lain.
Be wise to adopt something.
Don’t be a plagiator!